jalan setapak dibelakangku bercerita
tentang peluh yang menetes seirama ayunan langkah
ini kisah pilu
bahkan mengiris bak sembilu
tak kau mengerti gemetar nurani
manakala pengakuan kau ungkap melalui jemari
tak ada ruang seluas celah
bagiku untuk juga berungkap.....
bahwa cinta yang mekar
menendang dada
tentu tak kau tahu
aku sembunyikan dalam awan sore itu
biar jatuh menjadi hujan
meresap ke tanah menjadi tiada

Tidak ada komentar:
Posting Komentar